RSS

GALAKSI (ASTROPHYSICS)



Galaksi kita, Bima Sakti : memiliki ratusan miliar bintang, gas dan debu yang cukup untuk membuat miliaran bintang, dan setidaknya sebanyak sepuluh kali materi seperti semua bintang dan gas disatukan. Dan itu semua pengaruh gravitasi .
 
Seperti lebih dari dua-pertiga dari galaksi yang dikenal, Bima Sakti memiliki bentuk spiral . Di tengah spiral terdapat banyak energi yang sedang dihasilkan. Berdasarkan gravitasi yang sangat besar yang diperlukan untuk menjelaskan pergerakan bintang dan energi yang dikeluarkan, para astronom menyimpulkan bahwa pusat dari Bima Sakti adalah lubang hitam supermasif .
 
Galaksi lain memiliki bentuk elips, dan beberapa memiliki bentuk yang tidak biasa seperti tusuk gigi atau cincin. The Hubble Ultra Deep Field (HUDF) menunjukkan keberagaman ini. Hubble mengamati patch kecil dari langit (sepersepuluh diameter bulan) untuk satu juta detik (11,6 hari) dan ditemukan sekitar 10.000 galaksi, dari semua ukuran, bentuk, dan warna.

Formasi
Setelah peristiwa Big Bang, alam semesta terdiri dari radiasi dan partikel subatom. Apa yang terjadi selanjutnya bisa diperdebatkan - partikel kecil perlahan-lahan bergabung dan secara bertahap membentuk bintang, gugus bintang, dan akhirnya galaksi? Atau apakah alam semesta pertama mengatur sebagai gumpalan besar dari materi yang kemudian dibagi lagi menjadi galaksi?

Tabrakan
Bentuk galaksi dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya dan seringkali galaksi bertabrakan. Bima Sakti itu sendiri berada pada jalur tabrakan dengan galaksi yang terdekat dengan kita yaitu galaksi Andromeda. Meskipun Andromeda memiliki usia yang sama seperti Bima Sakti, pengamatan Hubble mengungkapkan bahwa bintang-bintang di galaksi Andromeda jauh lebih muda daripada yang ada di Bima Sakti. Dari ini dan bukti lain, astronom menyimpulkan bahwa Andromeda telah menabrak minimal satu dan mungkin beberapa galaksi lain. 





Penemuan terakhir










Sumber: Galaxies - NASA Science

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

(Tak) Merelakan Udara yang Semakin Tercemar



(Tak) Merelakan Udara yang Semakin Tercemar

Oleh :


Wahyu Lailatul A (123654001), Dalin Nadhifatuzzahro (123654017), Dian Kurvayanti I (123654018), dan Ella Wahyuni (123654039)
(Pendidikan IPA 2012 A)


Polusi udara sudah menjadi masalah global. Sumbernya berasal dari sumber tidak bergerak (misalnya cerobong suatu industri), sumber bergerak (misalnya kendaraan bermotor) maupun kombinasi dari keduanya (misalnya kawasan industri). Indikator fisik pencemaran udara berupa warna dan bau. Udara yang bersih seharusnya tidak berwarna dan tidak berbau. Adanya warna dan bau pada udara menunjukkan adanya polutan. Hal ini terlihat dari fenomena yang ada pada gambar di atas. Gambar tersebut diambil di kawasan perempatan Krian pada pukul 14.00 WIB. Dalam gambar, terlihat lapisan seperti kabut berwarna putih yang menyelimuti permukaan jalan hingga ketinggian sekitar 1 meter. Selain lapisan putih tersebut, bau khas sisa pembakaran bahan bakar amat kuat tercium di tempat tersebut. Adanya warna dan bau tersebut menunjukkan udara di perempatan Krian telah tercemar. Lapisan putih yang terdapat pada jalan tersebut merupakan gas yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang melintas. Lapisan asap putih dengan ketinggian 1 meter tersebut terkumpul pada saat  jumlah kendaraan bermotor yang melintasi kawasan itu tidak terlalu padat. Bisa dibayangkan jika volume kendaraan yang melintas semakin meningkat, pastilah tingkat tercemarnya atmosfer juga akan semakin tinggi.
Berdasarkan Department of Environment & Conversation tahun 2005 kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi di daerah perkotaan dan menyumbangkan 70% emisi nitrogen oksida (NOX), 52% emisi VOC, dan 23% partikulat. Kepulan asap dari gas buang kendaraan tersebut, lebih berbahaya dibanding dengan perokok aktif. Sebab, gas buang kendaraan di jalanan mengandung sulfur dioksida (SO2), Nitrogen Oksida (NOX) dan partikel halus berdiameter hingga sepuluh mikrometer yang dapat mengakibatkan beberapa penyakit pada paru-paru dan berujung pada kematian.
Komposisi Emisi Kendaraan bermotor meliputi gas CO, CO2, oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SOx), Hidrocarbon, partikulat debu termasuk timbal (Pb). Kegiatan transportasi berperan besar terhadap polusi udara atmosfer. Setiap liter bahan bakar yang dibakar akan menghasilkan emisi sekitar 100 gram karbon monoksida, 30 gram oksida nitrogen, 2,5 kg karbon dioksida dan berbagai senyawa lainnya termasuk senyawa sulfur (Hickman, 1999).
Senyawa karbon monoksida (CO) terbentuk dari pembakaran mesin kendaraan bermotor yang tidak sempurna. Sedangkan gas CO2 dihasilkan dari pembakaran sempurna mesin. Gas CO dan CO2 merupakan gas efek rumah kaca yang menyebabkan peningkatan suhu lingkungan. Oksida nitrogen (NOx), NO dan NO2 merupakan hasil pembakaran mesin pada suhu yang tinggi. Gas NOx dapat menyebabkan pencemaran yang serius, diantaranya adalah hujan asam dan kabut fotokimia. Hujan asam terjadi karena bereaksinya gas NO dengan oksigen dan uap air di atmosfer menghasilkan asam nitrit. Asam nitrit menyebabkan air hujan yang turun memiliki pH yang rendah. Sedangkan, kabut fotokimia terjadi karena adanya interaksi antara gas hasil emisi berupa gas NOx dengan hidrokarbon (HC) yang dibantu oleh sinar ultraviolet. Hal ini menyebabkan, kabut fotokimia lebih terlihat pada siang hari. Gas SOx juga dapat menyebabkan hujan asam sebagai akibat bereaksinya SOx dengan air di atmosfer membentuk asam sulfat. Pertikulat debu hasil dari proses pembakaran kendaraan bermotor berupa debu yang sangat kecil (± 0.01µm) dapat menyebabkan menurunnya jarak pandang (atmosfer tercemar).  
Secara umum, dampak yang ditimbulkan oleh polusi udara tidak dapat dihilangkan. Mengingat bahwa jumlah penduduk setiap tahun semakin bertambah dimana secara tidak langsung juga menambah jumlah kendaraan bermotor. Akan tetapi, kita dapat menekan tingkat pencemaran udara tersebut agar tidak terus meningkat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menurunkan emisi gas buang kendaraan bermotor. Penurunan emisi kendaraan bermotor dapat dilakukan dengan memperhatikan kualitas bahan bakar dan pengurangan jumlah kendaraan, dengan jalan memperbanyak angkutan massal dan pengurangan kendaraan pribadi. Selain itu, tindakan pencegahan yang harus dilakukan terkait emisi gas buang kendaraan adalah merawat mesin kendaraan bermotor agar berfungsi baik, melakukan pengujian emisi kendaraan secara berkala, dan memasang filter pada knalpot. Ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor diatur dalam Permen LH No.04 tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kepmen LH 05/2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama. Dalam peraturan tersebut telah jelas ditentukan batas maksimal CO, HC dan NOx yang dihasilkan setiap tipe kendaraan. Selain mengendalikan emisi gas buang kendaraan, tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas udara adalah dengan penanaman dan perluasan ruang terbuka hijau. Tumbuhan dapat mengubah CO2 menjadi O2. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi juga harus dilakukan dan beralih menggunakan transportasi massal seperti bus, angkot, dan kereta api. Selain itu dibutuhkan kesadaran dari setiap pengguna kendaraan bermotor untuk mengukur emisi gas buang kendaraannya secara berkala.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS